Showing posts with label My School. Show all posts
Showing posts with label My School. Show all posts

April 07, 2009

Hari yang melelahkan


Today is absolutely a tiring day...
Lelahnya simultan...
Bukan cuma fisik, tapi batin...



Lelah fisik, hari ini gue ngajar dari jam delapan pagi sampai jam satu empat puluh siang...
Paginya, jam delapan sampai jam setengah sembilan ngajar Qur'an Reciting,,,
Seneng sih, soalnya Hari, hari ini gampang banget ngertinya
Dan cepet banget bacanya...walaupun masih sambil gigit-gigit bibir terus.

Terus jam delapan tiga puluhnya sampai istirahat snack time, giliran kelasnya Grade 9 kelompok A di kelas Math...
Nggak tahu kenapa, mungkin hari ini gue ngeluarin Aura hitam kali ya...
Soalnya anak-anak manuttt banget sama gue hari ini...
Mereka sama sekali ga berani neko-neko...
Santai aja...ikutin apa kata Missnya,,,
Ga ngobrol ketika Miss ngejelasin...oke
Tulis yang Missnya suruh tulis...oke juga...
senengnyaaa,,,
"Nak, coba tiap hari kalian begitu terus..."

Dan itu berlangsung terus sampai kelompok C yang biasanya awur-awuran...
Karena hari senin kemarin mereka bikin masalah sama Missnya yang baik hati :P

April 03, 2009

It's not easy to be me...

I'm only a man
In a funny red sheet
I'm only a man
Looking for a dream

I'm only a man
In a funny red sheet
And it's not easy, hmmm, hmmm, hmmm...

Its not easy to be me
(Superman by Five For Fighting)




I have to say that it's not easy to be me...
It's not easy to be myself...
It's not easy to be what you want yourself to be...

It's not easy when you have to contemplate other people's opinion about you
It's not easy when you can't just ignore what do they think about you

It's not easy for me to be who I am...
It's not easy when people surround you always asking you to do everything right...

It's not easy when you found that people cannot accept when you get mad at them
Really, It's not, eventhought the madness is for a good reason...

It's not easy that everytime I have to consider other people's feeling, just when they don't want to understand mine...
Really, It's not easy...

I never say that it's gonna be easy to be a Teacher...
But I never know that it's gonna be hard and demanding...
But really, there is nothing I can do about it...
Because deep in me, this is what I love
This is what i wanted to do
This is the reason why God needed me in this world...
This is the reason why I belong to the Universe...

It's not that I can be a perfect Teacher or whatever...
No...

All I know that...It's not easy to be me...

I just can say I'm sorry when I made a mistake...
But do you know that the mistake in your eyes...sometimes...it is what it has to be...
It is for your own goodness
It is for your own sake
It means that I LOVE YOU...
It doesn't mean that when I got mad at you, I hate you...
How can I hate you?
How can it possible to hating you guys and girls?
It's unfeasible...

Do you know that dear???

Math Links For My Nimz Club


Below are list of few math sites that interests me...
You can use it for your class or your math club...
Enjoy


1. Math Puzzle

2. Miscellany Math

3. Free Math Puzzle

4. Play With Your Mind

5. Cool Math For Kids

6. Math Brainbashers (recommended)


March 29, 2009

Saturday's Seminar

Teacher Training on Singapore Secondary School Mathematics Approach and Methodology

On Saturday March 28 2009, I attend a Seminar in Santika Hotel, Jakarta. The
Seminar held by Mentari Books, which Lazuardi Junior High chooses to be used for Math subject.
This Seminar talks about how Singapore Government arranges the Mathematics Curriculum for all education levels in Singapore.

The Seminar is presented by Dr. Yeap Ban Har. He is one of the authors of New Syllabus Mathematics and New Syllabus Additional Mathematics books that published by Shinglee (Singapore) and Mentari Books (Indonesia).

The Seminar was opened with a brief Introduction from Mentari Books representatives (which I forget her names).

There are a lot of facts that amazed me in the Seminar. Firstly first, I was surprised with the fact that the seminar is in English. Second, I never expect that Dr. Yeap Ban Har is that young (xoxo) and cute.

I only attend the second session, started from 13.00. After the opening and greeting from Mentari Books publisher, Dr. Yeap allows the audience to ask questions relates to the Curriculum in Singapore. Most of them asked a question about how to adapt the content of the New Syllabus book with Indonesia Curriculum.

It leads to a conclusion that most of them hardly understand that the New Syllabus book was made to adjoin with the Singapore Math Curriculum. Therefore, if we as an Indonesia teacher willing to use the New Syllabus book, it’s us who have to select the most correct arrangement between the book’s contents and Indonesian Curriculum (whether it’s a Diknas or our own school Curriculum).

Well, in Lazuardi Junior High, we already applied it, how to combining and integrating the Curriculum from Diknas (KTSP), Cambridge and then try to use New Syllabus book as the main reference.

I have to notes some important things. That Singapore Educational Ministry is very brilliant in arranging the Math Curriculum. They really are reflecting to the future and brave enough to predict what is important and necessary for the young Singaporean lads. The Ministry only puts what they think it’s important to be used in the student real life in the future, and Shinglee has the exact same ideas by putting few topics rather than a lot of topics. Dr. Yeap also introducing four topics that exist in Indonesia Curriculum but already disposed from Singapore Curriculum. They are: Logic, Equation of Circles, Linear Program and Progression.

The reformations in Math Curriculum in Singapore afford an amazing result from student’s response. Most of them think that Math subject is challenging. They don’t think it’s as a difficult subject. Instead, they think that Math is a doable and interesting.

Another interesting thing about the Seminar is that Dr. Yeap gives us a lot of refreshing techniques in teaching Math. He gives us a new perception about how to teach Math that fun for both the Teacher and the student. Dr. Yeap also introducing few steps in approaching math topics. Instead of straightly entering the topics, it will be much easier for the teacher to use few methods below:

1. Visualization.
With this method, teachers are able to teach two or more topics in arrow.
Some methods are already introduced in New Syllabus book.
This method is doable as a scene setting in class.

2. Modeling.
Teacher creates model from the variety of situations and using learning tools, etc.

3. Connection.
Teacher and students together are able to make math class as a vehicle for a lot of things in daily life.

4. Communication.
Build a good communication between the teacher and students. Provide any things that possible for the students. Always leads the students to give their opinion, not straightly at the moment gives them the answer.


Dr. Yeap also told us a story about how difficult still now, in Singapore to change most teacher perception and method in teaching math using the technique that Dr. Yeap’s introduced. One thing that I noticed from this young Doctor, besides the fact that he is very smart; he is also highly confidence with his innovation in Math teaching method.

Oh, he also said that he only categorized his students as smart one and a struggling one. No stupid one. I guess it can goes along with Lazuardi’s visions about children.
Another enjoys and fun seminar.

I have to thank Dr. Yeap for the fresh brand new perception in teaching Mathematics.

November 23, 2008

Anak-anak ajaibku tidak butuh UN

Anak-anak ajaibku tidak butuh UN

Basically, waktuku lebih banyak kuhabiskan bersama anak-anakku ketimbang dengan keluargaku sendiri.
Delapan setengah jam, bersama lema belas anak ajaib di kelas selama lima hari sepekan.
15 jam perpekan untuk setiap kelas, dan dua jam setiap hari untuk anak-anak privatku.

Lebih banyak pikiran dan hati kucurahkan untuk mereka dibandingkan waktu untukku berjalan-jalan, hang out bareng temen atau sekedar nonton DVD seperti dulu sebelum aku mulai memutuskan untuk jadi guru.

Tapi tidak sedikitpun aku menyesali kelelahan batin dan fisik yang kurasakan selama aku bekerja.
Karena ada banyak hal setiap detiknya yang aku pelajari dan dapatkan dari segala hal yang mereka lakukan dan ucapkan.
Setiap reaksi atas aksi yang kulakukan,,,aku menikmatinya.
Meskipun kadang itu hal yang membuatku nyaris meledak, menangis sejadi-jadinya atau ingin membentur-benturkan kepala di dinding...



Aku menjalani masa sekolahku nyaris tanpa masalah akedemik.
Nyaris, karena nggak selalul mulus...ada stu atau dua masalah, tapi nggak pernah berdampak terlalu besar ke nilai-nilai yang harus aku terima.

Nggak pernah ada masalah juga dengan tiap sekolah dimana aku menimba ilmu.
Meski selama di SMA nggak pernah dapat ranking, tapi aku nggak pernah menerima hasil mengkhawatirkan.
Terutama di mata pelajaran sains, macam Math, Chemstry, Physics...mungkin kecuali Biology...
Aku nggak begitu suka dan bisa Biology, tapi nggak berarti juga nilaiku jelek...cukuplah.

Aku juga tidak pernah punya masalah dengan segala macam tes keluar atau tes masuk sekolah, mulai dari tes untuk menentukan kelulusan SD, yang waktu itu namanya masih EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional), dan ada tes prakteknya yaitu EBTA (Evaluasi Belajar Tahap Akhir).
TErus tes kelulusan SMP dan SMA, yang namanya masih sama, EBTANAS dan EBTA.
Kemudian tes masuk Perguruan Tinggi (Universitas) Negeri yang waktu itu disebut UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri)...
Nggak masalah karena aku berhasil melaluinya dengan baik.
Dan menyelesaikan pendidikan dengan cukup baik.

Sampai ketika campur tangan TUHAN yang tidak kumengerti mengubah semua bayangan tentang masa depanku.
Aku, sekarang, berada di sebuah sekolah, dan dititipi Lima Belas anak ajaib yang kupegang sendiri...
Dan Empat Puluh Empat Anak ajaib lainnya yang harus kupantau asupan matematisnya...
Selain itu aku masih punya empat orang anak lain yang harus di'tatar' secar privat, sekitar seminggu sekali...

Basically, waktuku lebih banyak kuhabiskan bersama anak-anakku ketimbang dengan keluargaku sendiri.
Delapan setengah jam, bersama lema belas anak ajaib di kelas selama lima hari sepekan.
15 jam perpekan untuk setiap kelas, dan dua jam setiap hari untuk anak-anak privatku.

Lebih banyak pikiran dan hati kucurahkan untuk mereka dibandingkan waktu untukku berjalan-jalan, hang out bareng temen atau sekedar nonton DVD seperti dulu sebelum aku mulai memutuskan untuk jadi guru.

Tapi tidak sedikitpun aku menyesali kelelahan batin dan fisik yang kurasakan selama aku bekerja.
Karena ada banyak hal setiap detiknya yang aku pelajari dan dapatkan dari segala hal yang mereka lakukan dan ucapkan.
Setiap reaksi atas aksi yang kulakukan,,,aku menikmatinya.
Meskipun kadang itu hal yang membuatku nyaris meledak, menangis sejadi-jadinya atau ingin membentur-benturkan kepala di dinding...

August 09, 2008

Teacher...

Every single day...I heard them...wining about something...
Asking something...
Tell Tale...




Homework, Project, Issues and News...
Welll...i cannot complain if they wining to me...
Because to be honest...
I love when they asking something to me...


July 26, 2008

Initiation Camp

Baru pulang dari acara Initiation Camp... 

kalau di sekolah negeri, acara ini kayak MOS atau Masa Orientasi Siswa... 



Seru banget, gue yang jadi gurunya aja ikutan seneng, bareng2 sama anak-anak, susah tidur karena banyak nyamuk, dan jalan2 malem... 

Kalau dalam keadaan begini, anak-anak lebih banyak dalam kondisi yang menyenangkan
Dan dari acara ini gue bisa ngeliat karakter anak-anak dengan lebih jelas lagi 

Mana yang mudah diatur dan mana yang punya bakat untuk jadi rebell 

Tapi yang sejauh gue liat, anak-anak gue kebanyakan emang nyenengin dan pada mandiri 

Mang sih beberapa ada yang masih tanya sana tanya sini, soal baju apa yang sebaiknya dipakai untuk tidur, dimana sebaiknya mereka harus naro sepatu, dan banyak lagi hal-hal nggak penting lainnya... 

Tapi itu jadi kesempatan buat gue untuk nunjukkin ke anak-anak bahwa mereka itu sudah mulai dewasa dan bisa ngurus dirinya sendiri tanpa harus dibantu sama orang lain... 

Terutama kalau lagi di sekolah... 

Dan abang, yang cukup tenang nginep di sekolah, sempet iseng masuk ke daerah girls... 

tapi semuanya menyenangkan... 
Nak-anak, nanti kita main-main lagi kayak tadi ya...

July 06, 2008

My Ideal School HOGWARTS

Bisa ngebayangin bentuk sekolah modern yang paling ideal buat masa depan???

Tujuh buku Harry Potter selesai gue baca. Dan entah kenapa baru gue sadarin sekarang, model sekolah yang paling ideal buat perkembangan anak di masa depan itu bisa dicontoh dari tempat sekolahnya Harry Potter dan teman-teman Laskar Dumbledorenya, HOGWARTS.

Buat gue J.K. Rowling nggak cuma bikin hidup gue tambah berwarna dengan kenal karakter-karakter ajaib yang dia ciptain di serial (yang menurut pandangan pribadi gue) paling mendunia itu. Tapi bikin gue juga punya cara yang paling mudah untuk ngasih gambaran ke orang-orang awam tentang sekolah yang paling cocok buat masa depan.

Harry Potter and The Prisoner Of Azkaban, film keempat dari total tujuh film yang pasti bakal diselesaiin sama Warner Bros, bukan salah satu dari seven-logy movie Harry Potter yang gue suka. Bahkan nggak masuk daftar film yang gue suka untuk ditonton. Nonton film ini cuma sekedar pelengkap setelah membaca bukunya.

Tapi meski nggak begitu suka, gue udah berkali-kali juga nonton seven-logy Harry Potter ke-empat itu, dan waktu ditayang ulang di Trans TV hari ini, ngeliat adegan waktu Harry belajar menaklukkan Buckbeak the Hippogriff, dan ngeliat gimana antusiasnya 'Professor' Hagrid dalam ngasih petunjuk dan langkah-langkahnya, gue seakan-akan ngeliat diri gue dan anak-anak gue sendiri.

Salah, gue bisa ngebayangin bahwa itulah yang seharusnya terjadi dalam proses pembelajaran anak-anak gue yang gue fasilitasi prosesnya.

Salah satu bentuk kegiatan pembelajaran di Hogwarts itulah yang gue bayangin sebagai sebuah proses yang mendidik. Bukan cuma kegiatan itu, tapi sistem yang mendukung kegiatan pembelajaran itu jadi bisa berlangsung yang juga ambil bagian untuk dapat kekaguman dari gue (secara ya...jarang-jarang gue bisa kagum sama sesuatu).

Proses Harry mengenali Buckbeak sebagai binatang liar yang angkuh dan tahu etika (mirip-mirip Llama gitu kali ya???), dan cara Hagrid menyalurkan keingintahuan Harry, sama seperti sesuatu yang gue inginkan terjadi dalam proses belajar anak-anak gue.

Cara Hagrid menentukan apa yang harus dipelajari sama anak-anak Hogwarts di tahun ke-empat mereka. Itu hal lain yang jauh lebih gue inginkan untuk terjadi sama gue sebagai guru, atau gue boleh bilang, pendidik dan fasilitator.

Hagrid adalah professor yang baru dilantik tahun itu, dalam dunia non-sihir, itu lazim disebut sebagai Guru Baru...( yang asyik buat diplonco dan disuruh-suruh ngerjain tugas-tugas icik iprit, secara guru-guru baru yang lalu-lalu juga dibegituin. HMMPH!!! yang namanya adat turun-temurun walau kegiatan nggak beradab, di dunia yang ngakunya isinya orang-orang dewasa ternyata masih berlaku juga ya...hmmm,,,maaf yang baca jangan tersinggung... no offend, salah sendiri nangkring di Blog gue...)

Balik lagi ke dunia sihir. Walaupun Hagrid adalah Professor baru, yang pelantikannya 100% wewenang dan keputusan Professor Dumbledore (gue masih nggak paham, kenapa sih sekolah yang anak-anaknya umur SMP sama SMA, guru-gurunya dipanggil Professor?), tapi Professor Dumbledore (Selanjutnya untuk lebih memudahkan penulisan akan dipanggil Prof. Dumbly saja) memberikan kekuasaan penuh bagi Hagrid untuk menyusun dan menentukan sendiri kebutuhan belajar bagi anak-anak Hogwarts tahun ke-empat.

Walaupun banyak yang meragukan kapabilitas Hagrid sebagai Guru Pemeliharaan Satwa Liar, tapi Prof. Dumbly melihat dengan cara pandang yang berbeda. Cara pandang yang sangat gue inginkan untuk dimiliki para pembuat keputusan akhir soal pendidikan di negara ini.

Prof. Dumbly melihat bahwa kemampuan dan pengetahuan yang diniliki sama Hagrid soal Satwa-satwa Liar dan berbahaya adalah modal terbesar, dan notabene terbaik yang dimiliki Hagrid, untuk menyingkirkan semua saingan-saingannya untuk mengisi posisi sebagai Guru Pemeliharaan Satwa Liar.

Bagi Hagrid, tidak ada Satwa Liar yang berbahaya, semuanya sama. semua hanyalah satwa asing yang hidup disekitar anak-anak dunia sihir dan besar kemungkinan mereka temukan dalam kehidupan mereka sehari-hari setelah mereka keluar dari sekolah.

Dan itu adalah (gue rasa, meski gue agak sok tahu juga) alasan utama kenapa Prof. Dumbly memilih Hagrid sebagai guru Pemeliharaan Satwa Liar. Karena Hagrid dianggap paling mengerti dan paham apa kebutuhan anak-anak tentang perkembangan pengetahuan mereka mengenai satwa liar.

Prof. Dumbly tidak melihat metode yang digunakan Hagrid sebagai sesuatu yang ekstrem dan berbahaya serta bisa mengancam nyawa anak-anak didiknya. Sebaliknya, menurut gue, Prof Dumbly melihat bahwa semua itu adalah sesuatu yang harus diperhatikan dan diketahui sama anak-anak. Bahwa satwa liar memang berbahaya dan mereka harus tahu persis bagaimana cara mengatasinya.

DO IT, PRACTICE IT!!!

Hah, kagum gue sama sekolah yang ada di dunia sihir itu.

Kelasnya Hagrid, eh, Professor Hagrid hanyalah salah satu contoh aja dari bagaimana sistem pendidikan di dunia sihir dijalankan...

Selain kelas Sejarah Sihir sama Kelas Ramalan, pastinya...

Semua kelas di Hogwarts di-setting untuk selalu mengikuti perkembangan dunia sihir yang sesungguhnya di luar sana. Tanpa mengesampingkan bahwa saat Harry, Ron dan Hermione sekolah, dunia sihir sedang menghadapi perang mereka lawan Sihir Hitam...

Tapi sekolah itu, seandainya bener-bener ada di dunia nyata, bakal jadi sekolah favorit gue, bukan karena ada Ron Weasley, atau karena gurunya bisa ngajarin gue buka pintu tanpa harus pake kunci dan nerbang-nerbangin barang (secara juga gue cuma muggle yang kebetulan berdarah biru, nggak ngaruh juga sih)...

Tapi di situ gue diizinkan untuk memilih mata pelajaran apapun yang gue rasa butuh, kayak Hermione, tanpa harus mengikuti pakem jadwal belajar yang disediakan sekolah.

Dan gue juga bisa menikmati perkembangan dunia luar dari dalam sekolah dengan cara yang paling konkret, karena guru-guru gue selalu up-to-date dalam menyusun kurikulum dan rencana belajar buat gue.

Di awal tahun, meski terkesan mengotak-ngotakkan, tapi mereka sudah ditempatkan sesuai kemampuan dan keinginan alami mereka...

Harry, yang mungkin aja kecerdasannya secara umum hampir merata, karena punya sisi gelap yang secara alami ada di dirinya, selalu ingin menguasai dan memimpin, tapi punya keberanian dan ketegasan, nggak jadi masuk Slytherin tapi masuk Gryffindor...

Hermione...kalau menurut anak-anak Ravenclaw, lebih cocok masuk ke asrama itu, karena...rasa kesetiakawanannya tinggi dan punya jiwa petualang...malah jadi satu asrama sama Harry.

Kalau Ron Weasley, mungkin nggak usah ditanya ya...Weasley emang empatnya di Gryffindor...tempat orang-orang yang selalu setia dan selalu komit sama keputusannya.

Dari awal aja, anak-anak udah diberi kesempatan untuk menunjukkan jati dirinya, bukan dari kemampuan sihir yang dimiliki, tapi dari sifat-sifat alami yang udah jadi bagian dari dirinya...anak-anak di Hogwarts nggak dipandang sebagai individu yang sama, dan mereka tidak serta-merta pasrah di-Judge oleh orang dewasa, Harry memilih untuk tidak masuk ke Ravenclaw, dan dia dipandang berhak mengikuti pilihannya.

Kapan, anak-anak gue diberi kesempatan untuk bisa merasakan pendidikan seperti itu???

Dan gue inget banget di tahun kelima Harry, waktu dia juga harus ikut ujian OWL...Ordinary Wizarding Level...semua siswa Hogwarts ditanya pendapatnya tentang keinginannya selepas dari Hogwarts, apa yang dia inginkan, dan para professor yang berkepentingan di sana akan memberi saran terbaik soal kelanjutan sekolah mereka, dan apa yang harus dilakukan di masa depan,

What you learn is what you get and what you live.

SUGOI!!! AMAZING!!!

Mungkin ini bukan sesuatu yang besar, karena bisa jadi metode ini udah banyak diterapin sama sekolah-sekolah di eropa atau di amerika sono...

Karena J.K. Rowling kan dari Inggris...

Tapi beberapa kali gue baca, masih banyak juga masalah yang terjadi sama sistem pendidikan di Eropa yang kaku dan nggak jauh beda sama "Sistem Pukul Rata Anak-anak se-Indonesia pake UN bikinan Yusuf Kalla"-nya Indonesia.

Selepas sekolah di Hogwarts, mereka bisa dengan bebas menjadi apa saja yang sesuai dengan dirinya, kemampuan dasar yang dia miliki dan dia kembangkan dengan natural, bukan paksaan.

Nilai moral yang bisa gue ambil, Yusuf Kalla mungkin tidak membaca Harry Potter.

Kalaupun membca, gue rasa dia bukan penganalisis yang baik.

Karena seandainya ia adalah penganalisis yang baik dan nggak suka sok tahu seenak udelnya sendiri, maka gue yakin, UN akan dihapuskan dan sistem pendidikan di Indonesia akan segera dibenahi.

Hidup Pendidikan!!!!!